Sistem Jury

March 27, 2011

Hampir semua orang suka akan kejujuran , namun tidak semua orang mampu berbuat jujur. (Bijna iedereen zou liever eerlijkheid, maar niet iedereen kan doen eerlijk). Pengacara T.O.P makin banyak yang menjadi kaya raya sebab jujur itu harus sesuai prosedur, selama tidak jujur tak ada prosedurnya itu bisa jadi income tambahan. Wajah hukum warisan belanda :)

Hamdian Affandi dilema mungkin itu gus…kalau jujur ternyata memang harus sesuai prosedur, ntar kalau jujurnya sembarangan dikatakan mencemarkan nama baik…kan mau jadi pahlawan malah kena hukuman…

Dalam sistem peradilan pidana yang menggunakan sistem juri, pengacara top(Advocate) ‘bertempur’ habis-habisan dengan Jaksa penuntut (attorney) dihadapan Juri netral, disaksikan oleh Hakim sebagai wasit. Advocate sudah mengumpulkan data selengkap-lengkapnya dan tau kira-kira besaran nilai hukuman maksimal dan minimalnya, tugas utamanya meminimalkan hukuman dan kalau bisa membebaskan hukuman terdakwa. Semakin pandai ia membela semakin mahal taripnya. Dalam tuntutannya Jaksa pertama-tama menyebutkan bahwa terdakwa adalah musuh masyarakat dan mengganggu ketertiban umum. Sepertinya lebih terasa keadilannya dari sisi pandangan masyarakat (yang diwakili juri). Karena yang menentukan salah atau tidaknya terdakwa adalah Juri.

Dalam sistem kita, yang diajukan terlebih dahulu adalah pasal-pasal hukum yang dilanggar oleh terdakwa, dengan sistem ini kemungkinan terjadi ‘jual-beli’ pasal lebih condong terjadi, ironisnya aturan-aturan di kita terkenal dengan pasal-2 karet. Oleh karena itu tak heran Pengacara makin banyak yang menjadi kaya raya, apalagi makin banyak kasus kakap yang muncul.
Panen Raya ! :)


Gubernur atau Bupati yang dipilih langsung?

January 11, 2011

Letak persoalannya adalah Negeri ini mau tidak negara ini dibagi ke dalam sistem ‘negara’ bagian/serikat atau tetep sebagai negara kesatuan. Kalau masih ragu-ragu dalam menetapkan keputusan ini secara defacto maupun dejure, maka persoalan PILKADAL (pemilihan kepala daerah langsung) akan TERUS RICUH.
Bukan hal mustahil, RIS itu pernah ada dan terbentuk namun sejarah menunjukan bahwa ini menimbulkan rawan desintegrasi.
Dengan otonomi, sistem desentralisasi sekarang ini, sepertinya merupakan sistem banci(ambigu), dimana daerah ingin ‘otonom’ namun ANGGARAN tetep MINTA-2 ke PUSAT.

JANGAN LIEUR MIKIRAN NAGARA KUSABAB LIEUR MIKIRAN NASIB BANGSA/DIRI

Selasa, 11/01/2011 12:01 WIB
Pemilihan Gubernur dan Letak Sistem Otonomi Daerah
Said Zainal Abidin – detikNews

Jakarta – Sistem pemerintahan daerah di Indonesia sepanjang waktu bergerak seperti pendulum, sekali bergerak ke kiri dan sekali lagi beralih ke kanan. Sekali mengarah ke sentralisasi, lain kali bertukar ke arah desentralisasi. Tidak pernah habis-habisnya. Akibatnya, sebagian besar waktu habis dalam perdebatan yang mengakibatkan pemborosan tenaga, pikiran dan uang.

Setelah beberapa lama kita melaksanakan sistem desentralisasi, di mana kepala daerah termasuk gubernur dipilih langsung oleh rakyat, akhir-akhir ini timbul wacana, agar gubernur cukup dipilih oleh DPRD. Alasan yang dipakai, agar money politics dapat dibendung, dan mudah diawasi karena jumlah yang terlibat tidak banyak. Apakah benar demikian? Persoalannya, ketika reformasi tahun 1998 dan 1999 diluncurkan, ide untuk menyerahkan pemilihan kepala daerah kepada rakyat adalah juga didasarkan pada alasan yang sama. Yakni agar jangan terjadi lagi money politics yang mengakibatkan banyak terjadi korupsi berjamaah dalam DPRD.

Pengalaman menunjukkan, bahwa korupsi tidak berkurang karena sedikit jumlah orang yang terlibat. Dalam Era Orde Baru, sebelum sistem pemilihan kepala daerah dilakukan melalui pemilihan umum, yang paling sering terjadi adalah korupsi berjamaah melalui konsinyasi anggota DPRD di hotel-hotel mewah yang diikuti dengan ikrar bersama para anggota DPRD untuk memilih calon tertentu. Maka itu diharapkan agar dengan menyerahkan pemilihan kepala daerah kepada rakyat banyak, konsinyasi itu akan dapat hilang. Kalaupun dengan sistem pemilihan langsung oleh rakyat masih terdapat money politics, yang menerima uang adalah rakyat banyak. Mudah dipahami, menyuap orang banyak jauh lebih sulit daripada menyuap 50-100 orang anggota DPRD.

Sistem pemilihan langsung kepala daerah adalah cara yang terbaik untuk menghindarkan dan mengurangi potensi korupsi. Sistem pemilihan langsung merupakan perwujudan sistem demokrasi yang diejawantahkan melalui sistem otonomi daerah. Mengembalikan wewenang pemilihan gubernur atau kepala daerah kepada DPRD adalah suatu kemunduran dan menciderai sistem demokrasi yang telah dibangun selama ini.

Persoalan yang sekarang terdapat didaerah-daerah sebenarnya bukan pada sistem pemilihan kepala daerah oleh rakyat, tetapi pada letak otonomi daerah. Seperti apa yang kami uraikan dalam tulisan ‘Menjawab Sebuah Tantangan Masa Depan Bangsa’ ( Jurnal NEGARAWAN, Edisi NO 17/ Agustus 2010, hal 161 – 174 ) letak otonomi daerah seharusnya bukan di tingkat kabupaten / kota, tetapi di tingkat provinsi. Ini disebabkan karena pelaksanaan sistem otonomi daerah di tingkat kabupaten/kota mempunyai berbagai kelemahan dibandingkan dengan sistem otonomi daerah di tingkat provinsi. Kelemahan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Sumberdaya aparatur ditingkat kabupaten/kota relatif lebih lemah dibandingkan dengan mereka yang terdapat pada tingkat ibukota provinsi.

2. Kematangan rakyat dalam politik dan wawasan nasional di tingkat kabupaten relatif lebih rendah dibandingkan dengan keadaan yang ada di tingkat provinsi.

3. Skala ekonomi yang mungkin dikembangkan di tingkat kabupaten/kota lebih kecil dibandingkan dengan yang dapat dikembangkan dalam wilayah provinsi.

4. Koordinasi gubernur terhadap bupati/walikota juga menjadi sulit karena gubernur tidak memiliki kewenangan langsung terhdap bupati/walikota.

5. Pemilihan gubernur oleh DPRD menurunkan legitimasi gubernur sebagai kepala daerah dalam melakukan koordinasi dan supervisi terhadap pejabat dari berbagai instansi yang ada dalam wilayah atau yurisdiksi administrasi provinsi tersebut.

Sebab itu sewajarnyalah untuk segera mempertimbangkan kembali letak titik berat otonomi daerah di Indonesia. Yakni dengan menempatkan sistem otonomi daerah hanya di tingkat provinsi dan menjadikan kabupaten/kota sebagai daerah dekonsentrasi di bawah koordinasi gubernur/kepala daerah, di mana bupati/walikota dipilih oleh DPRD, bukan sebaliknya.

*) Said Zainal Abidin adalah ahli manajemen pembangunan daerah dan kebijakan publik, Guru Besar STIA LAN, sekarang penasihat KPK.

(vit/vit)


Komunis vs Kapitalis

January 4, 2011

jalan-karl-marx-menjadi-iblis-1

Saya coba kutip sebagian dari artikel itu: “Siapa yang tidak berharap akan masa depan yang cerah? Rakyat Tiongkok yang telah diracuni paham komunis Marxis Leninis, kini sedang berada dalam belas kasih para Dewa dan Buddha untuk bertobat…”

Memahami Karl-Marx, konteksnya kalau dilihat dari kacamata ‘agama’, jelas ia dikelompokan ke jenis ‘setan’.
Namun kalau konteksnya memakai kacamata ‘politik’, maka apa yang menjadi buah pikir Marx adalah soal pilihan ideologi berkehidupan secara komunal (negara).

Perlu dicatat : satu-satunya pemenang(dari perang ideologi) dalam berkehidupan secara komunal (negara) sekarang ini menurut Fukuyama adalalah Kapitalis (liberal), dicirikan dengan runtuhnya Tembok Berlin dan bubarnya negara Uni Soviet (USSR) .

Salah satu peninggalan Blok Komunis sekutu Soviet dulu, negara RRC sekarang ini, tampaknya berhasil mengurus negaranya dengan cara menggabungkan ideologi komunal (dasar komunis) dengan kapitalis (zona bebas dan kepemilikan individual terbatas?), merupakan alternatif yang perlu dikaji dari sisi keilmuan politik.

Dengan demikian “klaim” pemenang perang ideologi satu-satunya di dunia ini belum tentu benar.
Bukankah Amerika sebagai “raja” kapitalis kemaren-2 mengalami krisis yang dampak globalnya kena ke nagara kita juga ? Amerika yang pusing kenapa kita kebagian getahnya (Sistemik Century Gate).

Agak susah memang membedakan ‘agama’ dan ‘politik’.
——-
Durasaya Das Komen: Komunis timbul karena kesewenang2an pengusaha yg didukung oleh ulama. Kalo melawan raja yg lalim, dibilang melawan wakil tuhan di dunia oleh ulama korup.
——
Dilihat dari “kacamata-global”, mengapa RRC tidak setuju pada HAM karena HAM adalah fondasi Kapitalis-Liberal, dimana hasrat manusia yang tidak terbatas (dari sisi ekonomi khususnya) dan dengan dasar kompetensi dan kompetisinya berhak untuk menjadi ‘raja’. Yang tidak kompeten dan tidak bisa bersaing silahkan masuk ke tong sampah atau mengais-ngais sampah jadi gelandangan atau pengemis. Dengan jumlah penduduk 1 milyar 3 ratus juta lebih manusia, konsep Kapitalis Liberal tidak cocok untuk negaranya.

Indonesia, dengan penduduk 237,6 jutaan punya ideologi Pancasila (yang terbuka), tinggal butuh keteladanan pemimpin nya saja, sepertinya (seharusnya) bisa bangkit dalam segala bidang.
—–
Durasaya Das komentar: Benar Gus. Kalo diikutin keinginan 1 koma milyar jiwa malah amburadul,, selama komunis dpt memakmurkan rakyat, tdk ada protes. Jika demoncrazy menyebabkan Kelaparan, akan muncul revolusi. Hanya perlu 1 pengusaha kuat yg takut Tuhan utk memanage Indonesia jadi makmur. Matahari bersinar 365hari. Singkong ditancap aja tumbuh. Kalo nggak makmur, org jadi geleng2. Managernya amburadul. Mungkin perlu sewa manager tangan besi dari china utk 1 periode sambil dievaluasi hasilnya.
———


Apakah Tuhan itu Energi ?

January 4, 2011

Hukum Kekekalan Energi berbunyi : Energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkah, ia hanya dapat berubah bentuk dari bentuk yang satu ke bentuk yang lain, misal energi panas jadi energi listrik, energi listrik jadi energi angin dsb.
Terus bila dihubungkan dengan rumus legendaris bahwa energi itu ekivalen dengan massa benda ybs dikalikan dengan kuadrat kecepatan cahaya.(e = mc2), artinya energi itu tidak akan berkurang dan tidak bertambah. Dengan demikian energi itu selalu (+), atau energi itu ada(mengada) ia tidak berkurang tidak pula bertambah, dengan demikian tidak ada energi (-), atau energi negatif.

Kalau begitu, apakah Tuhan itu energi karena yang Kekal itu hanya Tuhan . Jawaban saya energi bukan Tuhan, sebab Tuhan tidak dapat dirasio(nal)kan.

Pengetahuan bahwa energi itu tidak dapat berkurang/hilang adalah bukan hal yang mustahil, sekarang masih ada dalam taraf kajian fisika, dengan penelitian “black hole” ternyata baik materi maupun (energi) cahaya dapat terhisap-tersedot ke dalam medan gravitasi yang sangat besar, padahal (kecepatan) cahaya begitu cepatnya (tak ada sesuatu pun yang melebihi batas kecepatan), menjadi pertanyaan besar jadi material apakah sesuatu yang masuk ke medan gravitasi “black hole”.


Teori Evolusi Terinspiransi ? dari Naskah Wangsakerta

January 1, 2011
oman abdurahman wrote:
Bila mengacu kepada naskah Pustaka Rajyarajya I Bhumi Nusantara (Pustaka tentang kerjaan-kerajaan di Nusantara yang ditulis oleh Pangeran Wangsakerta dkk di Cirebon 1677 M, dalam Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat. Jilid I. PEMDA PROVINSI DT I. JAWA BARAT. 1983-1984), dijelaskan bahwa:

  1. Awal masa penciptaan, permukaan bumi ini menyerupai bola api yang bercahaya,
  2. berjuta tahun kemudian permukaan bumi menjadi dingin,
  3. kemudian terbentukalah pegunungan dan lautan,
  4. berjuta kemudian tumbuhlah tumbuhan-tumbuhan kecil,
  5. muncul pula hewan dan berjenis ikan di lautan,
  6. tumbuh pohon berukuran besar,
  7. muncullah mahluk hewan raksasa beraneka rupa,
  8. muncul pula hewan, unggas dsb,
  9. lama berselang kemudian hidup makhluk berwujud manusia tingkatan sederhana, manusia purba, manusia hewan,
  10. berjuta tahun kemudian muncul manusia separuh hewan separuh manusia,

Selanjutnya beribu tahun kemudian muncullah mahluk berupa manusia dari tingkat yang paling rendah sampai akhirnya muncul manusia sempurna. Seperti tingkatan manusia dewasa ini.

Selanjutnya P. Wangsakerta dkk menginformasikan ada 9 kali kelompok pendatang dari benua utara dalam kurun waktu 10.000 th sebelum Caka sampai awal tarikh Caka.


Buku Kehidupan….

January 1, 2011

Alur perjalanan kehidupan manusia ibarat buku,
Cover depan adalah kelahiran dan cover belakang adalah kematian.
Tiap lembarnya, adalah hari² dalam kehidupan kita sesuai apa yg kita lakukan.
Ada buku yg tebal dan ada buku yang tipis.

Ada buku yg menarik dibaca dan yang tidak sama sekali.

Sekali menulis, tidak akan pernah berhenti sampai selesai…. di halaman akhir buku.

Hebatnya, seburuk apapun halaman sebelumnya, selalu tersedia halaman selanjutnya yg putih bersih, baru dan tiada cacat.

Sama dg hidup kita,
seburuk apapun kemarin,
DIA selalu menyediakan hari yg baru untuk kita.

Kita selalu diberi kesempatan yang baru utk melakukan sesuatu yang benar dalam hidup kita setiap harinya, memperbaiki kesalahan kita dan melanjutkan alur cerita yg sudah ditetapkan-NYA untuk kita masing².

Buku itu berkualitas atau hanya sekadar sampah tidak ditentukan tebalnya –oleh berapa lama kita hidup, tetapi sejauh mana kita menjalani kehidupan yg berkualitas.

Nikmatilah dan isilah halaman buku kehidupan dengan hal² yang benar dan jangan lupa, untuk selalu bertanya kepadaNYA, tentang apa yg harus ditulis tiap² harinya.

Supaya pada saat halaman terakhir buku kehidupan selesai, kita menjadi pribadi yang berkenan di samping-NYA.

Dan buku kehidupan kita layak untuk dijadikan teladan bagi generasi setelahnya.

Selamat menulis di buku kehidupan, dg tinta cinta dan pena kebijakan.

Terima kasih YA TUHAN utk hari yang baru ini.

Have an Every Nice Days in the New Year of 2011…!!

HAPPY NEW YEAR 2011
ALL THE BEST FOR YOU ALL
Salam,
Gde Pradnyana

Ardini commented: dasar si tokek belang …

dasar si tokek belang ...

Hj Ninih Muthmainnah yang ditalak 2 Aa Gym sejak tiga bulan lalu, dinasihati oleh Ketua MUI Kota Bandung, KH Miftah Faridl, untuk tabah.

http://www.sekolahdinewzealand.com/images/kudagerak.gif

Di-edit dari kiriman seorang teman:

Malam Taun Baru 2011

December 31, 2010

Cuaca cerah, bunyi dar der dor membahana di langit malam


Kesadaran Relativitas Realitas

December 31, 2010

Realitas sering orang menyebutnya sebagai kenyataan.
Nyata itu bisa dilihat, dirasakan, diraba oleh pancaindra si pengamat(subjek) terhadap objeknya. Bentuk suatu kenyataan bisa merupakan suatu peristiwa atau event atau kejadian. Suatu peristiwa yang serentak terjadi bagi si pengamat dapat menjadi dua even (kejadian) yang [seolah-olah] berbeda.
Misal : Kejadian petir akibat terjadinya loncatan electron di angkasa , bagi si pengamat, ia akan menerima dua kejadian yang sepertinya berbeda, satu adanya cahaya atau kilatan, kemudian kedua terdengar bunyi, padahal peristiwa ini adalah peristiwa ‘tunggal’. Sampai nya informasi memerlukan adanya media dan waktu yang menentukan terhadap sampainya informasi tersebut, dalam kenyataan peristiwa petir, kilatan cahaya sampai terlebih dahulu ke mata karena cahaya sebagai gelombang mempunyai kecepatan yang cepat dibandingkan dengan kecepatan gelombang suara (gemuruh) yang sampai ke telinga. Beda lagi kalau kejadian petir itu dekat jaraknya ada di depan mata si pengamat, bila ini terjadi maka satu peristiwa menjadi dua even yang seolah-olah berbeda itu tidak terjadi, kejadian ini disebut peristiwa serentak/serempak

Mengamati peristiwa serentak/bersamaan menjadi tidak sederhana ketika jarak dan waktu memisahkan antara si pengamat dengan objek yang diamatinya. Di kahidupan sehari-hari peristiwa serempak (realitas) sangat mudah untuk diamati, sekalipun oleh dua subjek pengamat yang berbeda , misalnya jatuhnya piring dari atas meja makan. Dengan ‘tepat’ dikatakan dapat dihitung, jam berapa dan dari ketinggian berapa, serta bunyi yang terdengar bisa terekam atau terasa sama, tak ada perbedaan. Artinya tak ada perbedaan mengenai ‘realitas’ kejadian tersebut. Menyadari realitas adalah dengan melihat, “seeing is believing” sepertinya belum tentu ‘benar’. Orang kebanyakan tidak paham bagaimana proses melihat itu terjadi, untuk melihat dibutuhkan cahaya, suatu objek dikatakan terlihat apabila objek tersebut diliputi oleh cahaya yang memantulkan citra suatu objek. Sedangkan cahaya itu merupakan gelombang mempunyai kecepatan tertentu . Kecepatan cahaya dalam sebuah ruang hampa udara didefinisikan saat ini pada 299.792.458 meter per detik (m/s)[1]atau 1.079.252.848,8 kilometer per jam (km/h) Bagaimana proses melihat itu berlangsung?

Secara sederhananya karena ada pantulan citra suatu objek material yang masuk ke dalam retina, Secara rumitnya, proses ini dimulai dari partikel cahaya yang disebut “foton” yang melalui pupil mata yang membawa [info] citra sesuatu, dan menimpa permukaan retina yang terletak di bagian belakang mata. Retina mengandung sel yang sensitif terhadap cahaya. Sel tersebut begitu sensitif sehingga setiap sel dapat mengenali sekalipun hanya sebuah foton yang menimpa retina. Energi foton mengaktifkan “rhodopsin”, suatu molekul kompleks yang banyak terkandung dalam sel retina. Selanjutnya rhodopsin mengaktifkan sel-sel lain, dan sel lain tersebut pada gilirannya mengaktifkan sel yang lain lagi. Akhirnya arus listrik dibangkitkan dan diantarkan ke otak oleh syaraf optic Realitas dari yang dirasakan nyata dalam kehidupan sehari-hari sejatinya secara teknis, tidaklah ‘benar’ demikian adanya menurut sudut pandang yang berbeda. Contoh untuk hal ini adalah ketika kita yang diam di permukaan bumi tempat kita berpijak, menurut aturan normal, padahal kita sedang bergerak bersama bumi yang berputar pada porosnya dengan kecepatan 1674,4 km/jam.

Bayangkan saja kecepatan puncak pesawat Boeing 747-8 = 1047.41 km/h. Dengan demikian sebenarnya kita sedang berada pada sebuah ‘pesawat’(bumi) yang bergerak lebih cepat 1,5 kali dari pesawat Boeing 747. Mengapa kita tidak merasakan bumi yang berputar pada porosnya? Malah yang kelihatan bergerak adalah benda-benda langit seperti Bulan dan Matahari. Matahari terbit di sebelah Timur dan tenggelam di sebelah Barat itulah realitas sehari-hari kita, padahal bukan Matahari yang terbit atau tenggelam melainkan kita-kitalah yang melihatnya yang “tenggelam” bersama berputarnya bumi pada porosnya. Ilustrasi lain mengenai realitas seperti di atas adalah ketika seseorang menaiki gerbong kereta api (yang tertutup jendelanya) yang melaju dengan kecepatan konstan di suatu jalur yang lurus. Ketika ia membuka jendela dan melihat ke luar, maka si pengamat yang ada di dalam gerbong kereta api itu akan melihat seolah-olah yang bergerak adalah pemandangan di luar gerbong kereta api, bukan dirinya yang sedang berada di dalam gerbong yang sedang melaju. Ilustrasi seperti ini, prinsip kerjanya sama dengan kita yang sedang berdiam diri di atas permukaan bumi yang melaju berputar dengan kecepatan konstan pada porosnya, artinya tidak ada percepatan maupun perlambatan. Sedemikian rupa kita tidak merasakan berputarnya bumi seperti halnya seseorang yang menumpang kereta api yang melaju dengan kecepatan konstan di jalur yang lurus.

Cobalah tengok bintang-bintang di langit pada malam hari yang cerah, berkelap-kelip cahayanya bertaburan seperti intan berlian. “Andai ku dapat meraih bintang akan kupetik dan kubawa pulang’, sebuah lagu yang menyiratkan keinginan meraih bintang yang berkilauan. Boleh jadi pencipta lagu tersebut akan urung dalam menciptakan lagu itu kalau tau bahwa bintang yang bertaburan di langit itu adalah sejenis dengan matahari yang memancarkan panas di permukaan nya saja sekitar 6.000 °C. J .[air saja mendidih pada 100 °C]. The dead of star Kesadaran terhadap ‘realitas’ sebenarnya terbatas oleh media, dimensi, daya serap si pengamat, dan juga ketidaksempurnaan info yang terkirim atau dikirim dari objek yang diamati. Hanya ada satu batasan parameter yang mutlak, yaitu kecepatan cahaya yang tetap, yang merupakan mediator penyampain informasi. Batas kecepatan cahaya merupakan konstanta untuk mengartikan atau mendefinisikan apa itu realitas. Bilamana kita melihat ke langit dan menyaksikan bintang-bintang bertebaran, ataupun kita melihat dengan menggunakan mikroskop Hubble, sejatinya informasi itu adalah informasi ‘purba’. Informasi yang dikirim melalui media cahaya yang sampai ke mata kita yang telah menempuh ribuan, bahkan ada yang jutaaan tahun cahaya. 1(satu) tahun cahaya adalah jarak yang ditempuh oleh cahaya selama satu tahun. Dengan demikian apa yang tampak nyata di depan mata sesungguhnya itu adalah informasi yang ‘baru nyampai’ ke mata kita. Pada saat kini, sekarang secara serempak info dari objek di langit itu belum sampai ke kita sebagai pengamat yang ada di bumi. Two War of Galaxy

Jadi dari uraian di atas, mana yang menjadi realitas yang sebenarnya itu?

Apakah yang dirasakan, dilihat dan dialami seperti apa adanya, ataukah realitas itu adalah apa yang menurut “penemuan” pemikiran dan bukti-bukti observasi ilmiah/fisika?.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.